Cara mengembalikan kemampuan indra penciuman yang hilang akibat corona

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SGP 2020 – 2021.

KONTAN. CO. ID – Jakarta. Kehilangan kemampuan mencium adalah salah satu gejala terkena virus corona. Bahkan, meski anak obat Covid-19 sudah sembuh banyak yang belum mencium bau. Bagaimana cara mengembalikan kemampuan indra penciuman

Gangguan penciuman menjadi salah satu isyarat yang dirasakan oleh pasien Covid-19. Misalnya, alih-alih mencium aroma pingai, mereka mungkin malah mencium aroma kubis busuk atau cokelat agak-agak berbau bensin. Kondisi yang disebut parosmia ini juga masih dirasakan oleh sebagian pasien yang sudah sembuh dari Covid-19.

Apa bedanya parosmia dan anosmia yang dalam beberapa masa terakhir juga sering dibahas jadi salah satu gejala Covid-19? Menurut Science Direct, anosmia adalah tidak adanya sensasi penciuman, sementara parosmia adalah persepsi penciuman yang terdistorsi, baik dengan atau tanpa adanya rangsangan bau.

Kehilangan penciuman kala kali disadari pasien sebagai modifikasi sensasi rasa. Meski sebagian pasien sembuh Covid-19 masih merasakan usikan penciuman, sebuah penelitian di Inggris belum lama ini menemukan pelajaran khusus yang dapat membantu anak obat Covid-19 mendapatkan kembali kemampuan indera penciumannya.

Baca juga: Senarai promo Hari Hari KJSM 4 Desember banyak pilihan diskon tenggat 50%

“Kehilangan penciuman juga merupakan gejala pati terinfeksi corona dan kami terang bahwa pandemi ini menyebabkan banyak orang kehilangan kemampuan penciuman masa panjang atau distorsi bau seperti parosmia, ” ungkap peneliti Carl Philpott, dari Norwich Medical School di University of East Anglia melalui rilis berita universitas, seperti dilansir WebMD.

Lalu, apa dengan perlu dilakukan dalam latihan moncong tersebut? Untuk melakukan latihan penciuman ini, seseorang harus mengendus setidaknya empat bau berbeda dua kali sehari, yang dilakukan setiap hari selama beberapa bulan.

Menuru Philpott, latihan ini bertujuan untuk membangun pemulihan berdasarkan neuroplastisitas atau kekuatan otak untuk mengatur ulang dirinya sendiri sebagai pemulihan setelah adanya perubahan atau cedera. Para pengkaji bekerja dengan lebih dari 140 orang yang mengalami kehilangan atau perubahan pada indera penciuman itu.

Para partisipan diberi berbagai corong pelatihan penciuman, termasuk bau-bauan yang berbeda, seperti kayu putih, lemon, mawar, kayu manis, coklat, tiruan, lavender, madu, stroberi, dan timi.

<! —

gong2deng –>

Editor: Adi Wikanto

. bg-color-linkedin background-color: #0072b1;